Sepertinya jadi ritual tahunan yang namanya Mudik Lebaran. Sekali waktu bertanya kepada orang tua ku ” Kenapa kok namanya mudik?” beliau menjawab “Mudik itu asal katanya dari -UDIK- yang artinya kampungan kalau disimpulkan kita rame-rame mengkampungkan diri..jadilah kata Mudik tersebut”
bagaimana pun susahnya untuk mengikuti ritual ini, tetap menjadi sebuah kebanggaan dan kerinduan. Pulang Kampung bertemu orang tua, sanak saudara dan kawan-kawan.
Bahkan menurut survei pribadi dengan mengikuti berita-berita di tivi, tingkat kejahatan semakin meningkat jika menjelang lebaran, dikarenakan kebutuhan ekonomi untuk melakukan ritual mudik tersebut.
Singkat cerita, tahun ini saya berkesempatan mudik ke kampung tanah kelahiran saya : Mataram, Nusa Tenggara Barat. Setelah 2 tahun yang lalu selalu berlebaran di tanah kelahiran ayahanda. Semangat didada membara, rencana yang tertunda sejak tahun lalu menjadikan kesempatan kali ini merasa tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Karena belum tentu tahun depan pulang kembali ke Mataram, maka tahun ini saya berniat merasakan nikmatnya perjalanan estafet dari Yogyakarta ke Mataram. Dengan ditemani beberapa kawan kami pun berangkat di sabtu pagi yang cerah dengan menggunakan kereta api kelas ekonomi menuju Banguwangi. Perjalanan ditempuh kurang lebih 14 jam merasakan fasilitas kereta ekonomi full sauna berharga Rp. 36.000,- sampai di banyuwangi hampir tengah malam, kami berjalan kaki sekitar 200 meter ke pelabuhan Ketapang, lalu beristirahat sebentar di mushala pelabuhan tersebut. Mencuci muka, sholat dan melepas penat. Karena masih bulan Ramadhan, pun kami mengisi perut untuk sahur dengan sebungkus nasi balap ikan tongkol yang serharga Rp. 4000,- sudah plus kerupuk ditemani secangkir teh panas. Nikmatnya luar biasa dan benar-benar ekonomis.
Siap dengan energi baru, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gilimanuk, Bali dengan membeli tiket kapal seharga Rp. 6000,-. Setelah 30 menit, sampailah kami di seberang, mengejar bis kecil sempit (lebih tepat di sebut engkol) pertama yang jalan mulai pukul 2 pagi. Hingga lima jam perjalanan darat melintas Bali, sampailah kami di pelabuhan Padang Bai. Kemudian membeli tiket kapal lagi untuk perjalanan ke Lembar, Lombok Barat. Untungnya kami dapat kapal yang lumayan bagus, karena ombak besar di selat Lombok jelas-jelas bisa membuat perut ikut oleng alias mabuk laut, sampai-sampai kawan kami pun ada yang membatalkan puasanya karena tak sanggup melanjutkan. Harga tiket kapal laut Padang Bai-Lembar sebesar Rp. 31.500,-. Jika dihitung-hitung, perjalanan ekonomis ini hanya mengeluarkan biaya kurang lebih Rp. 120.000,- saja.
Sampai di Pelabuhan Lembar jam 12 siang hari berikutnya, kami pun dijemput dengan mobil dan saudara kawan kami, diantar ke rumah masing-masing dan bertemulah kami dengan orangtua dan keluarga. Sungguh 30 jam perjalanan yang luar biasa, yang tidak akan terlupakan, dimana ada banyak kejadian lucu yang terekam dalam memori kami.
Suatu hari aku pasti kembali ke Mataram, entah kapan.
Akhir Kata : Mohon maaf dengan setulus hati atas segala kesalahan yang pernah diperbuat. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H.
Kent...
September 29, 2011 at 10:05 am
Weewwwwwww.. like this… hahahay keren2… ^____^ .. bagus sekali Fee reviewnya.. beautyfull island